Episode 1 ( Kopi dan Strawberry)

 Episode 1 ( Kopi dan Strawberry)

2023

Jam makan siang tiba, waktu yang akan dimanfaatkan oleh pekerja kantor untuk melupakan sejenak tumpukan kerjaan yang ada di meja mereka. Sama halnya dengan wanita berkemeja putih dengan sedikit aksen batik gajah uling khas Banyuwangi yang dibalut dengan blus warna hitam dipadupadankan dengan celana panjang keluar dari sebuah gedung megah untuk melepas penat di kedai kopi seberang. Rambut hitam legamnya dikuncir kuda adalah ciri khasnya setiap ia bekerja.

Sambil menunggu pesanannya datang dia memilih tempat duduk di dekat jendela, tempat duduk favorit dimanapun dia berada. Kebiasaan yang selalu ia lakukan sejak kecil, melihat orang berlalu lalang lewat jendela merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.

“ALANA?” mendengar namanya dipanggil, Alana mengangkat tangan sebagai petunjuk bagi yang pelayan.

“terimakasih” ucap Alana dengan tersenyum, lesung pipit yang menghiasi wajahnya menambah kadar kecantikan seorang Alana Mahendra.

Alana Mahendra wanita penggila kopi yang seakan sudah menjadi candu di kesehariannya. Berbeda dengan wanita kebanyakan yang lebih memilih macchito, kopi latte ataupun capuccino yang kadar kepahitannya tidak terlalu kentara. Alana berfikir kopi yang seperti itu adalah kopi yang kurang jelas rasanya jika dibandingkan Japanese /V60 ataupun kopi tubruk yang sudah jelas bahwa itu memang kopi. Baginya pahit dari rasa kopi adalah kejujuran yang tidak boleh disembunyikan. Kopi dengan tambahan gula, susu maupun coklat akan menodai kemurnian dari kopi. Sementara menunggu laptopnya menyala, ia menyesap kopi sambil melihat handphone miliknya.

Bagi Alana kopi adalah minuman yang inspiratif, memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit jenuh yang akan berlanjut kepada pikirannya yang stress setelah ia bekerja. Ketika ia merasakan kejenuhan dalam pekerjaan atau sedang bertemu dengan jalan buntu dalam pekerjaannya, setelah ia menikmati segelas kopi – pikirannya seolah refresh dan kembali semangat. Kopi membuat Alana menemukan ketenangan di tengah keramaian ibukota dan menyembuhkan kelusuhan yang melanda jiwanya.

“Hy...”

Alana sedikit tersentak dengan suara yang menyapa, namun setelah itu senyumnya mengembang melihat pria yang sudah hampir tiga tahun bersabat dengannya.  

“Lo habis ikutan lomba lari marathon ga?” Alana keheranan karena baru kali ini ia melihat sahabatnya berpenampilan berantakan, kemeja yang keluar dan terlihat lusuh dengan lengan yang digulung sampai siku.

“tadi gue kesiangan dan gak sempet setrika baju, sampai kantor dimarahin atasan, gue lupa kalo hari ini deadline na, gue fikir masih besok. Eh mau kesini tadi ban kempes di deket taman . y udah terpaksa harus bawa motor sambil jalan. Bentar sih tapi mataharinya bahagia banget ngikutin gue jalan” cerocos pria itu yang membuat Alana terkekeh pelan dan menggeleng – gelengkan kepalanya sambil menyesap kopi mendengar curhatan pria di depannya. Ya Alana menganggapnya sebagai curhatan.

“ah lo mah senyum – senyum aja, padahal hari ini kepastian buat gue antara lanjut bekerja atau enggak.” Pria itu mengacak rambut alana, sedikit kesal karena sedari tadi Alana hanya tersenyum.

“ih rese ah!!” Alana meyingkirkan tangan pria itu, yang hanya dibalas senyuman oleh sang pemilik.

“kan lo kerja sama saudara lo, iya meskipun tiri  sih. Tapi yang gue lihat pak Aldi sayang banget sama lo. Gue yakin dia bakal ngasih lo kesempatan lagi ga” yang diajak bicara masih bergeming saja, yang membuat alana mengusirnya untuk segera memesan kopi.

“udah gih sana pesen, sekalian bayarin punya gue buat ganti kopi kemaren yang udah gue anter ke kantor lo” ucapnya enteng.

“lo belum bayar lan, wahh gila lo lan.gaji lebih gede tapi pelit amet” alana hanya tersenyum dengan reaksi itu. Pria itu melupakan sesuatu hal disini, kedai kopi mempunyai sistem pesan  langsung bayar jadi tidak mungkin Alana belum membayarnya.

Dengan gerakan luwes pria itu segera meninggalkan meja menuju tempat untuk memesan. Alana masih saja memperhatikan pria itu seakan masih tidak percaya dengan penampilannya yang berantakan seperti itu. Alana mengenal Agra Pratama adalah sosok yang menggilai kerapian. Kerap kali mengomentari Alana yang cenderung sedikit cuek dengan penampilannya. Namun bukan berarti Alana gadis yang berantakan, tapi ia hanya sering terburu – buru sehingga lupa menyetrika kemejanya. Hal itu sebenarnya tidak terlalu kentara mengingat Alana selalu memakai blazer ketika bekerja.

Berteman baik membuat mereka sering menghabiskan waktu bersama meskipun tidak satu kantor . pertemuan mereka berawal dari makan siang bersama pimpinan perusahaan masing – masing. Posisi Alana yang merupakan sekretaris pengganti karena sekretaris terdahulu cuti melahirkan membuatnya selalu diajak kemana – mana sekaligus membuat Alana belajar. Pimpinan Alana merupakan kakak tingkatnya sewaktu kuliah yang mengambil alih perusahaan ayahnya jadi mereka sudah saling mengenal satu sama lain.

Ketika mendapat tawaran magang, Alana masih semester delapan yang disibukkan dengan skripsi Namun hal itu tidak menghambat Alana untuk lulus tepat waktu. Keberuntungan saat itu menyertai Alana, sekretaris terdahulu mengundurkn diri karena ingin fokus mengasuh sang anak. Hal ini membuat Alana menjadi pegawai tetap selama dua tahun belakangan ini.

Berbeda dengan Agra yang bekerja di perusahaan milik saudara tirinya. Mereka selalu terlihat bersama ketika makan siang ataupun acara – acara kantor lainnya. Agra tinggal terpisah dari mamanya yang menikah lagi. Walaupun beberapa kali ditawari untuk tinggal bersamanamu Agra tetap menolak. Bukannya tidak menerima pernikahan mamanya tapi Agra hanya ingin mandiri dan tidak bergantung.

Pertemuan mereka selanjutnya terjadi secara tidak sengaja di kedai kopi yang sekarang mereka duduki. Sejak saat itu mereka jadi dekat bahkan teman – teman kantor mereka menganggap mereka sedang menjalin hubungan spesial. Sesekali mereka pergi bersama dan Alana kerap kali mengantar kopi ke kantor Agra jika lelaki itu tidak sempat beristirahat maklum Agra adalah sosok workaholic.

Komentar